Ketika Kurban Terasa kian Mahal bagi Umat

Oleh: Wahyudi Nasution
Pengurus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Pegiat Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), Ketua LPUMKM PDM Klaten

Setiap kali Iduladha tiba, gema takbir terdengar di masjid dan kampung-kampung. Ibadah kurban hadir sebagai simbol ketaatan sekaligus solidaritas sosial. Namun di balik semarak itu, terselip sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan: mengapa bagi sebagian umat, kurban hari ini terasa kian mahal? Bukan hanya mahal secara ekonomi, tetapi juga secara sosial?

Kita patut bersyukur, dalam beberapa tahun terakhir pengelolaan kurban mengalami kemajuan yang signifikan. Peran takmir masjid, lembaga sosial, hingga ormas seperti Muhammadiyah semakin profesional. Distribusi semakin tertata, manfaat semakin luas.

Bahkan, inovasi yang dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) melalui program pengolahan daging kurban menjadi makanan kaleng seperti RendangMu menunjukkan bahwa kurban kini tidak hanya berhenti pada pembagian sesaat, tetapi menjadi bagian dari sistem ketahanan sosial dan respons kebencanaan. Ini adalah lompatan penting yang patut diapresiasi.

Standardisasi Sosial dalam Pelaksanaan Ibadah Kurban
 
Namun di tengah kemajuan itu, ada satu gejala yang perlu kita cermati dengan jernih. Kurban semakin identik dengan sapi. Di banyak tempat, sapi seolah menjadi standar utama, sementara kambing atau domba perlahan bergeser menjadi pilihan kedua. Tidak ada yang salah dengan sapi, tidak pula dengan sistem patungan. Semua sah dalam syariat.

Tetapi persoalannya bukan pada jenis hewan, melainkan pada cara kita memaknainya. Di banyak desa, kemampuan ekonomi masyarakat tidak hadir dalam bentuk uang tunai, melainkan dalam bentuk ternak kecil berupa beberapa ekor kambing atau domba yang dipelihara dengan sabar dari hari ke hari. Di situlah sebenarnya letak kemampuan berkurban masyarakat kecil.

Di sisi lainnya, ketika kurban lebih banyak dimaknai dalam skema sapi yang membutuhkan iuran relatif besar, maka kemampuan itu seperti kehilangan jalannya. Seorang petani bisa saja menjual dua ekor kambingnya, tetapi hasilnya belum tentu cukup untuk mengikuti iuran membeli seekor sapi.

Di titik inilah terjadi pergeseran yang halus tapi nyata. Secara syariat sebenarnya mampu, tetapi pada sisi sosial menjadi sebaliknya. Tidak sedikit masyarakat kecil yang akhirnya memilih tidak berkurban. Bukan karena tidak punya, tetapi karena merasa tidak cukup. Mereka ragu, malu, bahkan minder jika hanya berkurban kambing. Seolah-olah ibadah itu memiliki “standar sosial” yang harus dipenuhi. Padahal dalam ajaran Islam, berkurban satu kambing untuk satu orang adalah kurban yang utuh dan sempurna.

Fenomena ini menunjukkan adanya pengeksklusifan yang tidak kasat mata. Akses terhadap ibadah tidak dibatasi oleh ajaran agama, tetapi menjadi sempit karena konstruksi sosial yang kita bangun bersama tanpa disadari.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka kurban berpotensi bergeser menjadi ibadah yang secara praktis lebih mudah diakses oleh kelompok ekonomi menengah ke atas. Sementara masyarakat kecil, yang sejatinya memiliki kemampuan sesuai kadar mereka, justru perlahan menjauh. Kita tentu tidak menginginkan hal itu.

Membebaskan Ibadah dari Sekadar Simbol Hewan

Kisah Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa inti kurban adalah ketaatan total kepada Allah. Ketika pengorbanan itu ditebus dengan seekor domba, terdapat pesan simbolik yang sangat kuat, bahwa nilai kurban tidak terletak pada besar kecilnya hewan, tetapi pada keikhlasan dan ketakwaan.

Al-Qur’an pun menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging maupun darahnya, melainkan ketakwaan. Maka setiap bentuk kurban yang dilakukan dengan ikhlas—baik kambing, domba, sapi, maupun unta memiliki nilai yang sama di hadapan Allah.

Di sinilah kita perlu melakukan refleksi bersama. Kemajuan dalam manajemen kurban harus terus didorong. Inovasi seperti yang dilakukan LAZISMU adalah contoh baik bagaimana ibadah bisa memberi dampak lebih luas. Namun pada saat yang sama, kita juga perlu memastikan bahwa kurban tetap inklusif, tetap membuka ruang bagi semua, bukan hanya sebagian.

Peran takmir masjid, para dai dan mubaligh, serta lembaga keagamaan menjadi sangat penting. Bukan hanya sebagai pengelola, tetapi juga sebagai penjaga arah. Menjaga agar kambing tetap bermartabat sebagai hewan kurban, menjaga agar tidak muncul standar sosial yang membebani. Dan yang terpenting, menjaga agar setiap muslim merasa memiliki kesempatan yang sama untuk beribadah.

Kurban pada hakikatnya adalah ibadah yang membebaskan. Ia memberi ruang bagi setiap orang untuk mendekat kepada Allah sesuai dengan kemampuannya, bukan sekadar tentang siapa yang paling besar hewannya, tetapi siapa yang paling tulus pengorbanannya. Karena itu, menjaga kurban tetap membumi adalah bagian dari menghadirkan keadilan dalam beribadah. Agar suatu hari nanti, seorang petani bisa kembali berkata dengan tenang, “Aku tidak ikut sapi, tapi aku tetap bisa berkurban.” Dan itu cukup. Sangat cukup.

Share the Post:

ace99play

ace99play

alpha4d

alpha4d

alpha4d

alpha4d

alpha4d

alpha4d login

alpha4d

alpha4d

dewaslot88

dewatoto88

dewaselot

torpedo99

dewatoto